Saturday 3 January 2026 - 15:30
Tauhid dan Implikasinya terhadap Kehidupan Sosial: Telaah Ayatullah Jawadi Amuli atas Sabda Imam Muhammad Al-Jawad (as)

Hawzah/ Tauhid yang sejati—yakni keyakinan penuh kepada Allah sebagai Maha Pemberi rezeki—membebaskan manusia dari kegelisahan hidup dan berbagai penyimpangan finansial. Imam Muhammad Al-Jawad 'alaihissalam mengingatkan bahwa mendengarkan suatu ucapan juga merupakan bentuk ibadah, karena apa yang diserap hati akan membentuk arah iman dan perilaku. Di era media saat ini, ruang informasi adalah ruang nyata pembentukan kesadaran; karena itu, keikhlasan dan kedalaman ilmu menjadi kunci agar pesan agama dapat memberi pengaruh yang kuat dan mencerahkan di tengah masyarakat.

Berita Hawzah– Ayatullah Jawadi Amuli, dalam salah satu pelajaran akhlaknya, membahas tema “Peran tauhid dalam ketenangan individu, keselamatan sosial, dan pengarahan media”, yang berikut ini kami sajikan ulasannya kepada kalian, sebagai berikut:

Tauhid membebaskan manusia dari kegelisahan dan stres, serta—na‘ūdzu billāh—dari korupsi, gaji-gaji fantastis yang tidak wajar, suap terselubung dan terang-terangan, sogokan, serta riba. Dalam salah satu sabda mulia Imam Muhammad Al-Jawad alaihissalam, beliau bersabda:

{مَنْ أَصْغی إِلی ناطِق فَقَدْ عَبَدَهُ، فَإِنْ کانَ النّاطِقُ عَنِ اللّهِ فَقَدْ عَبَدَ اللّهَ، وَ إِنْ کانَ النّاطِقُ یَنْطِقُ عَنْ لِسانِ إِبْلیسَ فَقَدْ عَبَدَ إِبْلیسَ}

“Barang siapa mendengarkan seorang pembicara, maka sungguh ia telah menyembahnya. Jika pembicara itu berbicara atas nama Allah, maka ia telah menyembah Allah; dan jika ia berbicara dengan lidah Iblis, maka ia telah menyembah Iblis.”

Sabda ini merupakan peringatan serius bagi kita semua agar waspada terhadap dunia maya (sosial media). Telah berulang kali ditegaskan bahwa dunia ini adalah dunia nyata, bukan dunia maya; sebab bukan karena menggunakan kabel lalu tanpa kabel menjadi maya, dan bukan pula karena gambar di televisi itu nyata lalu tanpa kaca menjadi maya. Setiap tempat di mana pemikiran disampaikan dan dipindahkan, maka ia adalah dunia nyata. Maka media sosial ini pun merupakan dunia nyata.

Beliau mengatakan bahwa ketika seseorang membaca buku, menyaksikan suatu pemandangan, menonton film, atau mendengarkan ucapan seseorang, pada hakikatnya ia sedang beribadah kepadanya. Jika buku atau film itu berbicara tentang Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah beribadah kepada Allah dan Rasul; namun jika isinya tentang hawa nafsu, dunia, langit, bumi, atau hal-hal sia-sia, maka ia telah beribadah kepada hal-hal tersebut.

Dalam peristiwa pengasingan Abu Dzar ke Rabdzah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam bersabda kepadanya:

“Wahai Abu Dzar, Rabdzah adalah tempat yang tidak memiliki air dan udara yang layak untuk hidup. Namun ketahuilah, seandainya seluruh permukaan bumi menjadi tandus dan tidak ada setetes hujan pun yang turun dari langit, Allah tetap mampu mengatur dan mencukupi hamba-Nya.”

Tauhid seperti apakah ini? Dengan keyakinan semacam ini, manusia akan menjadi sepenuhnya tenang. Abu Dzar menjawab: “Aku tahu dan aku benar-benar yakin.” Ungkapan-ungkapan serupa juga diriwayatkan dari Imam Muhammad Al-Jawad 'alaihissalam.

Tauhid inilah yang menyelamatkan manusia dari kegelisahan dan stres, serta—na‘ūdzu billāh—rezeki dari hal-hal yang haram seperti suap, mencuri dan riba. Telah ditegaskan bahwa seluruh rezeki yang halal berada di tangan Allah Yang Mahasuci.

Semakin tinggi ilmu seseorang dan semakin besar keikhlasannya, maka semakin besar pula pengaruh ucapannya, dan masyarakat akan lebih mendengarkannya. Masyarakat mampu membedakan ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan kita, dan mereka tidak akan menjadi pesimis terhadap agama; melainkan akan berkata: “Mereka yang berbuat salah, dan persoalan ini harus diselesaikan oleh para ulama dan pemimpin agama.”

Kalian adalah para pemimpin agama. Oleh karena itu, berusahalah—insya Allah—untuk senantiasa menghidupkan masjid-masjid dengan kajian yang mendalam dari Al-Qur’an dan riwayat. Dengan demikian, pengaruh ucapan kalian akan semakin dalam, baik pada diri sendiri maupun pada masyarakat.

Sumber: Pelajaran Akhlak, 18/05/2018 (1397/05/18)

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha